SD Negeri 2 Baleharjo

Jl. A. Yani No.45 Pacitan Jawa Timur 63511

Go Green School

Apasih Imunisasi difteri itu?

Selasa, 17 April 2018 ~ Oleh Reza Pradana ~ Dilihat 370 Kali

Artikel Yang Kami Kutip di Laman doktermuslim.com Tentang Imunisasi difteri Semoga dengan adanya Edukasi Ini Bisa Menambah Ilmu dan Pemahaman Kita Mengenai Imunisasi. Baca dengan Seksama Ya Sahabat BL2.. Salam Sehat Untuk Semua Sahabat BL2..

Imunisasi difteri?

Imunisasi difteri adalah imunisasi terhadap penyakit difteri, sebuah radang amandel karena bakteri Corynebacterium Diphteria denan tanda khas plak putih di tenggorokan dan mulut belakang. Penyakit difteri dalam medis sering disebut dengan TONSILITIS DIFTERI.

Vaksin untuk difteri sediannya dalam bentuk DPT, yaitu D=Difteri, P=Pertusis dan T=Tetanus.  Difteri, tetanus dan pertusis adalah penyakit serius yang disebabkan bakteri. Difteri dan pertusis dapat menyebar antar orang ke orang, sedangkan tetanus masuk melalui luka termasuk luka iris.

Difteri, menyebabkan penebalan plak putih mulut dan tenggorokan belakang dan dapat mengganggu masalah pernafasan, paralisis otot, miokarditis (gangguan jantung) dan dapat memicu kematian. Selain itu memicu bull Neck sign, pembesaran kelenjar getah bening.

Pertusis, batuk Whooping, dimana batuk berat pada anak, berlangsung beberapa minggu dan dapat memicu kejang, kerusakan otak, pneumonia bahkan kematian.

Tetanus, atau sering disebut Lock Jaw, memicu nyeri pada otot seluruh tubuh, memicu kekakuan pada dagu, sehingga pasien tidak dapat membuka mulut dan kesulitan menelan. Tetanus ini dapat memicu kematian dengan angka kematian 4 dari 20 kasus.

Vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) dapat membantu mencegah penyakit difteri ini. Kebanyakan anak yang di lakukan vaksinasi atau imunisasi, akan terlindungi. Banyak anak terkena penyakit ini terutama yang tidak vaksinasi. DPT (DTaP) adalah bentuk aman dibanding vaksin bentuk lama (DTP).

Kapan Imunisasi Difteri?

Imunisasi difteri diberikan pada anak sebanyak 5 dosis, dimana 1 dosis masing-masing pada bayi usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan, di tambah anak usia 15-18 bulan dan 4-6 tahun. Vaksin ini dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain dan aman. Booster, dapat diberikan setiap 10 tahun.

  1. Pemberian pertama: Usia 2 bulan
  2. Pemberian Kedua: Usia 4 bulan
  3. Pemberian ketiga: Usia 6 bulan
  4. Pemberian keempat: usia 15-18 bulan
  5. Pemberian kelima: usia 4-6 tahun

Siapa yang tidak perlu Imunisasi Difteri?

Vaksin ini haruslah diberikan pada anak dengan lengkap, terutama apabila ada program dari pemerintah karena KLB difteri. Namun ada beberapa kondisi yang membuat vaksin ini belum perlu diberikan atau ditunda pemberiannya, diantaranya:

  1. Anak dengan sakit, demam.
  2. Anak yang mempunyai reaksi alergi setelah terpapar vaksin DPT
  3. Anak dengan gangguan otak dan syaraf dalam 7 hari setelah diberikan vaksin DPT.
  4. Anak Kejang, setelah diberikan DPT dan disertai demam tinggi.

Segera hubungi dokter terdekat untuk dilakukan penanganan dan mendapat informasi lengkap kapan sebaiknya imunisasi. Beberapa anak mungkin tidak diberikan vaksin lain seperti pertusis. Bila tanpa pertusis, maka vaksinnya namanya DT.

DPT tidak harus diberikan pada seseorang 7 tahun atau lebih tua, karena vaksin pertusis hanya digunakan untuk anak dengan usia dibawah 7 tahun. Pada anak usia lebih tua, membutuhkan proteksi lebih. Vaksin Tdap sama dengan DPT. Dosis tunggal vaksin Tdap direkomendasikan pada orang dengan usia 11-64 tahun, dan direkomendasikan setiap 10 tahun pemberiannya.

Risiko Imunisasi Difteri

Vaksin adalah salah satu jenis obat, yang mungkin dapat menyebabkan masalah medis lain seperti reaksi alergi. Vaksin juga dapat berisiko harm dan kematian, namun risikonya sangat kecil sekali. Namun tetap tidak menutup kemungkinan ada risiko yang mungkin muncul, seperti:

  1. Demam
  2. Pembengkakan dan kemerahan pada area suntikan
  3. Nyeri dan luka pada area suntikan
  4. Penurunan nafsu makan, muntah, dan lemah lesu
  5. Kejang anak
  6. Tidak berhenti menangis selama 3 jam atau lebih
  7. Demam tinggi dan reaksi alergi
  8. Penurunan kesadaran, dan kerusakan otak permanen.

Mengendalikan demam, terutama pada anak dengan kejang sangat diperlukan. Keluarga harus mengenali gejala kejang. Demam dan nyeri dapat dikurangindengan pemberian antinyeri seperti acetamenophen (Parasetamol), ketika suntikan imunisasi diberikan selama 24 jam.

Reaksi alergi harus segera dibawa ke dokter dan rumah sakit terdekat, karena apabila reaksi alerginya berat akan memicu syok anafilaktik. Dan sangat mengancam jiwa. Terakhir pesan kami, jangan ragu untuk vaksin dan imunisasi. Karena untuk kesehatan anda dan kesehatan orang disekitar anda.

Penjelasan dari: dr. Wiwid Santiko

pada laman doktermuslim.com

Kegiatan Berita

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Dwi Suranto, S.Pd

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.Salam dan tetap semangat. Selamat datang di Website SDN Baleharjo 2 PacitanSebagai media informasi dan komunikasi Web SDN…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Apakah Website Ini Bermanfaat

LIHAT HASIL